Jangan menilai buku dari sampulnya, mari berdiskusi dan berkontemplasi.
Pada hari Sabtu 24 Agustus 1996, suara tangis saya mendahului terbitnya matahari di Bogor. Hari itu menjadi hari pertama saya datang ke dunia ini. Tidak seperti kedua saudara saya, orang tua saya tidak pernah sekalipun merayakan hari kelahiran saya sebagai hari yang spesial. Hari itu hanya datang sekali dan takkan pernah kembali lagi. Itulah yang membuat setiap hari yang saya alami adalah hari yang spesial.
Berada dikalangan keluarga yang agamis dan sederhana serta tinggal di sebuah kampung kecil di daerah Bogor Selatan membuat saya merasa cukup beruntung dengan kehidupan yang sejauh ini saya hidupi. Dimana hantaman globalisasi tidak begitu terasa dibanding teriknya matahari saat saya bermain dilapangan ataupun di sawah, dibanding semilir sejuk angin yang terasa di teras rumah. Jalan aspal yang tidak banyak dilalui kendaraan bermotor membuat hunian ini tempat beristirahat yang tenang, seperti Kota Bogor, Buitenzorg.
Ketenangan itu tidak lantas membuat pikiran saya terdiam. Begitu banyak permasalahan yang terjadi di dunia ini. Maka saya mencari alasan mengapa tuhan menciptakan saya di dunia ini.
"Ernest Hemingway once wrote : The world is fine place, and worth fighting for. I agree about the second part"
-Se7en (1995)-
Dunia ini adalah tempat berjuang, namun bukan tujuan akhirnya. Maka saya mencari bagaimana cara saya berjuang.
Canda adalah candu dalam setiap penat. Saya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat beragam. Dari orang yang selalu menjalankan sunnah Rasul hingga orang yang tidak percaya tuhan. Orang kiri dan orang kanan. Yang keras kepala dan lemah lembut. Yang berjalan kaki dan yang membawa mobil. Yang bergoyang tiap kali mendengar lagu dangdut hingga yang melompat menikmati lagu metal. Semuanya bercampur dalam suka dan duka, meski lebih banyak suka dan tawa. Orang-orang ini yang membuat hidup menjadi lebih hidup dengan caranya masing-masing.
Saya tidak terlalu fasih dalam berkata-kata, sering kali kalimat yang saya lisankan tidak diterima dengan baik oleh kawan bicara saya. Itulah mengapa saya merasa sebaiknya saya menuliskan apa yang saya alami dibandingkan menceritakannya secara lisan. Maka saya menulis untuk mengenang.




Komentar
Posting Komentar